Mereka sekumpulan remaja digerakan oleh rasa ingin berkumpul atas nama Junjungan mereka Sang Kekasih – Diperjalankannya menuju tempat terindah yang menjadi Imam seluruh hamba-hambaNya yang mulia – bersaudara atas nama Sang Maha Tunggal. Pertemanan dan persaudaraan yang jarang dilihat di daerah mereka tinggal. Tak pernah bermaksud menyaingi dan menandingi pemuda dan remaja-remaja yang terseret derasnya arus zaman, tidak malah menjelek-jelekan mereka, bahkan menyalah-nyalahkannya. Tidak membuat kutub yang berlawanan. Mereka malah kadang mengajak siapa pun untuk berkolaborasi. Disadari atau tidak mereka sedang ngawiji , dadi siji , sama sejajar, memandang sama siapa pun diantara mereka, setara. Mereka satu. Mereka hanya membuat sebuah persaudaraan, membuat sebuah tempat baru bagi remaja-remaja yang digerakan hatinya untuk merasakan hal-hal religius dan mulai tertarik ke dalam dunia spiritual yang lebih dalam. Tempat bagi mereka, remaja-remaja yang kering jiwanya. ...
Perjalanan hidup itu seperti menerawang jarak ratusan kilometer tanpa lampu penerang. Gelap gulita. Tak tahu akan ada apa di depan kelak. Kita hanya tahu saat ini kita sedang berdiri dimana. Satu menit kedepan pun kita tak tahu akan terjadi apa dan akan ada apa di dalam kehidupan yang kita jalani di dalam waktu sedetik itu. Tapi bukankah disitu letak keasyikannya? Berjalan tanpa tahu di depan ada apa, untungnya kita masih boleh meraba-raba – yang sering kita sebut cita-cita dan harapan atau sejenisnya – dan itu dianjurkan.
“asal mas tau saja, asam lambung itu kalau menetes di lantai lantainya bisa pecah” kata salah satu pegawai atau sales obat yang sedang saya ajak berbincang di samping gerobak warung kopi ala kaki lima. Sambil menenggak kopi saya pun terkagum sekaligus khawatir. Kagum saya akan ciptaan gusti Allah SWT yang luar biasa itu, dan khawatir bagaimana jika di dalam lambung manusia hina macam saya ini, ternyata mempunyai gangguan lambung yang bukan saja menyebabkan lantai pecah tapi seisi rumah bisa runtuh. Bahkan meledak. Saya membayangkan saya sedang menelan nuklir. Nuklir itu pun kini terancam meledak, di benak saya.
Comments
Post a Comment